Rabu, 26 November 2014

Pada Awalnya Cinta, dan Persahabatan yang Membuatnya Bertahan

Seharusnya cinta tidak seperti banjir; sesaat meluap-luap menggenangi dan menenggelamkanmu dalam bahagia, tapi kemudian surut perlahan dan yang tersisa hanya lumpur kenangan.

Apalagi seperti kembang api; menyilaukanmu dalam gemerlap sekejap, dan kemudian menghilang lenyap dan kau terkatung dalam senyap.

Tantangan terbesar bagi cinta adalah waktu. Musuh terbesar bagi cinta bukanlah pengkhianatan, tetapi kebosanan.
Cinta bukanlah rumah yang tuntas sekali bagun. Bukan tugu yang kokoh bertahan melawan dera zaman dan kepungan lelumutan. Dia lebih seperti tanaman; jika dirawat dengan tekun akan tumbuh memekar, tetapi kalau dibiarkan telantar, akan layu, mengering hingga ke akar.

*****
Saya banyak bercermin kepada mereka yang bisa mempertahankan pernikahan sampai puluhan tahun. Diam-diam di dalam hati, pasangan yang setia sampai renta, selalu membuat saya iri.

Romanstisme bukanlah sepasang remaja ABG yang bergandengan tangan di depan loket penjual karcis bioskop, atau kata-kata puitis yang dikirim pria yang baru saja jatuh cinta, dua hari lalu. Tetapi Kakek dan Nenek yang berjalan tertatih, dan melihat mereka, kita tak pernah tahu, siapa sebenarnya yang sedang memapah siapa…
Sejauh yang saya mampu pelajari dari pasangan seperti itu, cinta ternyata hanya bisa diawetkan dengan persahabatan. Bisalah diibaratkan kalau cinta itu seperti motor 2 tak; meledak-ledak, kencang gak karu-karuan, tetapi boros dan kurang cocok untuk perjalanan panjang. Di sisi lain, persahabatan seperti motor 4 tak atau malah mobil diesel; mungkin agak kurang spontan, tetapi tidak saja tahan lebih lama, tetapi juga makin lama makin panas dan stabil.

Ada ungkapan yang agak sarkastis (tetapi sangat ada benarnya) bahwa cinta seharusnya berakhir dengan pernikahan. Artinya, ketika menikah cinta memang akan berakhir. Dan memang banyak pasangan yang tersentak ketika menyadari bahwa pernikahan ternyata tidaklah sederhana (apalagi seindah) yang dibayangkan.

Udah panjang aja nih tulisan. Yang mau disampaikan sesungguhnya, jadikanlah pasangan sebagai sahabat terbaik. Pastikan dia berada di tempat teratas daftar orang yang ingin Anda ajak curhat atau sekadar diskusi tentang apapun. Sempatkanlah bertukar lelucon terbaru dengannya. Cari atau bila penting ciptakan hobi yang bisa diminati bersama. Dsb. Hal-hal kecil, tetapi terbukti efektif mengukuhkan persahabatan, mendekatkan dua hati di tengah guncangan badai waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar